banner 728x90

Megawati Sindir Penguasa

megawati sindir penguasa
megawati sindir penguasa
banner 468x60

Megawati Sindir Penguasa Seperti Orba, Apa Maksudnya?

Megawati Sindir Penguasa, Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI, baru-baru ini menyampaikan kritik pedas kepada pemerintah yang dinilainya bertindak sewenang-wenang menjelang Pilpres 2024. Dalam pidatonya di acara konsolidasi relawan pendukung capres-cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD se-Jawa di JiExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (27/11), Megawati menyinggung ada penguasa yang berperilaku seperti zaman Orde Baru (Orba).

banner 325x300

“Mestinya Ibu enggak perlu ngomong gitu, tapi sudah jengkel. Karena apa, Republik ini penuh dengan pengorbanan, tahu tidak? Mengapa sekarang kalian yang baru berkuasa itu mau bertindak seperti waktu zaman Orde Baru,” kata Megawati.

Megawati Sindir Penguasa, Apa yang Dimaksud dengan Orba?

Orba adalah singkatan dari Orde Baru, yaitu nama yang diberikan kepada rezim politik yang dipimpin oleh Soeharto, mantan Presiden RI yang berkuasa selama 32 tahun sejak 1966 hingga 1998. Orba dikenal sebagai masa pemerintahan yang otoriter, represif, korup, dan nepotis. Orba juga sering melakukan pelanggaran hak asasi manusia, seperti pembunuhan, penangkapan, penyiksaan, dan penghilangan paksa terhadap para aktivis, mahasiswa, jurnalis, seniman, dan tokoh-tokoh oposisi.

Orba juga mengontrol media massa, organisasi kemasyarakatan, dan partai politik dengan cara memberlakukan Undang-Undang Pokok Pers, Undang-Undang Organisasi Masyarakat, dan Undang-Undang Pemilu yang menguntungkan Golkar, partai yang didukung oleh Soeharto. Orba juga menciptakan sistem dwifungsi ABRI, yaitu peran ganda militer dalam bidang pertahanan dan keamanan serta politik dan pemerintahan.

Apa yang Disindir oleh Megawati?

Megawati tidak secara eksplisit menyebutkan siapa penguasa yang dimaksudnya. Namun, banyak yang berspekulasi bahwa sindiran itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang merupakan kader PDI Perjuangan dan didukung oleh partai tersebut dalam dua periode pemilu presiden. Jokowi juga dikenal dekat dengan Megawati dan sering meminta nasihat darinya.

Megawati menyoroti sejumlah aksi yang dinilainya sewenang-wenang, seperti intimidasi dan intervensi kepada masyarakat. Menurut Megawati, tindakan tersebut secara terang telah menyalahi perundang-undangan. Megawati juga mengkritik adanya fenomena para pendamping desa yang menakuti pemerintah desa dan mengarahkan mereka memilih pasangan tertentu.

Beberapa contoh kasus yang mungkin menjadi latar belakang sindiran Megawati adalah:

  • Penangkapan aktivis dan tokoh oposisi dengan tuduhan makar, seperti Rizieq Shihab, Eggi Sudjana, Ahmad Dhani, dan Ratna Sarumpaet.
  • Pembubaran acara diskusi dan seminar yang dianggap mengganggu stabilitas politik, seperti diskusi tentang Papua di Universitas Gadjah Mada, seminar tentang Pancasila di Universitas Indonesia, dan diskusi tentang pemilu di Universitas Negeri Malang.
  • Pemberlakuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang kerap digunakan untuk menjerat para kritikus pemerintah, seperti Dandhy Laksono, Ravio Patra, dan Haris Azhar.
  • Pencabutan izin penyiaran TVRI untuk menayangkan wawancara dengan Prabowo Subianto, capres yang kalah dari Jokowi dalam Pilpres 2019.
  • Pemecatan pegawai KPK yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan, yang dianggap sebagai upaya melemahkan lembaga antikorupsi tersebut.

Apa Tujuan Megawati Mengeluarkan Sindiran?

Megawati Sindir Penguasa mungkin memiliki beberapa tujuan dalam mengeluarkan sindiran tersebut, di antaranya adalah:

  • Menegaskan posisi dan otoritasnya sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI, yang memiliki pengalaman dan pengetahuan politik yang lebih banyak daripada Jokowi.
  • Menjaga jarak dan independensi partainya dari pemerintah, yang mungkin dianggap terlalu dominan dan mengintervensi urusan internal partai, seperti pemilihan calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2024.
  • Menyuarakan aspirasi dan kepentingan rakyat, yang mungkin merasa tidak puas dan kecewa dengan kinerja dan kebijakan pemerintah, terutama dalam menangani pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi dan kesejahteraan.
  • Menyampaikan pesan dan kritik secara halus dan tidak langsung kepada Jokowi, agar tidak menimbulkan konflik dan perpecahan di antara keduanya, serta menjaga hubungan baik dan harmonis.

Bagaimana Reaksi Pemerintah dan Masyarakat?

Sindiran Megawati ini mendapat berbagai reaksi dari pemerintah dan masyarakat. Beberapa reaksi yang menarik adalah:

  • Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana merespons pernyataan Megawati dengan mengatakan bahwa itu adalah cermin negara demokrasi, di mana semua orang bisa berpendapat dan membuat penilaian. Ari tidak ingin mengomentari pernyataan Megawati lebih lanjut dan menganggapnya sebagai hak dan kewenangan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP.
  • Sekretaris TKN Prabowo-Gibran, Nusron Wahid, mempertanyakan sindiran Megawati dan menyebut bahwa pemerintahan yang saat ini berkuasa justru selama dua periode diusung oleh PDIP. Nusron juga menuding bahwa Megawati merasa gagal menjadikan Jokowi sebagai alat partai dan mengungkit kembali isu-isu lama yang sudah selesai.
  • Pengamat politik Rocky Gerung memuji sindiran Megawati dan menganggapnya sebagai penjaga demokrasi. Rocky menilai bahwa Megawati menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang tidak bisa dikendalikan oleh lembaga survei, oligarki, atau tukar tambah istana. Rocky juga memberikan 12 jempol untuk Megawati yang tidak tergoda untuk mengumumkan calon presiden yang didukungnya dalam acara HUT PDIP.
  • Netizen di media sosial juga memberikan tanggapan yang bermacam-macam, mulai dari yang setuju, yang tidak setuju, yang menyindir balik, yang menganggap lucu, yang menganggap serius, dan lain-lain. Beberapa contoh tanggapan netizen adalah:

Kesimpulan

Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI, mengeluarkan sindiran kepada penguasa yang dinilainya berperilaku seperti zaman Orba. Sindiran ini mungkin ditujukan kepada Presiden Jokowi, yang merupakan kader dan didukung oleh PDIP. Megawati menyoroti sejumlah aksi yang dinilainya sewenang-wenang, seperti intimidasi, intervensi, dan pelanggaran perundang-undangan. Megawati mungkin memiliki beberapa tujuan dalam mengeluarkan sindiran tersebut, seperti menegaskan posisi dan otoritasnya, menjaga jarak dan independensi partainya, menyuarakan aspirasi dan kepentingan rakyat, dan menyampaikan pesan dan kritik secara halus kepada Jokowi. Sindiran Megawati ini mendapat berbagai reaksi dari pemerintah dan masyarakat, yang ada yang setuju, ada yang tidak setuju, ada yang memuji, ada yang mengecam, dan ada yang menyindir balik.

banner 325x300
banner 728x90