banner 728x90

Gabriel Attal Perdana Menteri

Gabriel Attal Perdana Menteri
Gabriel Attal Perdana Menteri
banner 468x60

Gabriel Attal: Perdana Menteri Prancis Termuda, Gay, dan Berani

Gabriel Attal Perdana Menteri, Gabriel Attal adalah nama yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia politik Prancis. Pasalnya, ia baru saja ditunjuk oleh Presiden Emmanuel Macron sebagai perdana menteri (PM) Prancis baru menggantikan Elisabeth Borne. Dengan usia yang baru menginjak 34 tahun, ia menjadi kepala pemerintahan termuda di Prancis sepanjang sejarah. Selain itu, ia juga menjadi PM Prancis pertama yang secara terbuka pernah menyatakan dirinya gay. Siapa sebenarnya sosok Gabriel Attal ini? Apa latar belakang dan prestasinya? Bagaimana ia bisa meraih posisi tertinggi kedua di negara tersebut? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Gabriel Attal Perdana Menteri: Latar Belakang dan Pendidikan

Gabriel Attal lahir pada 16 Maret 1989 di Clamart, Prancis. Ia tumbuh di Paris dengan tiga orang adik perempuan. Ayahnya, Yves Attal, adalah seorang pengacara dan produser film keturunan Yahudi Tunisia dan Yahudi Alsace. Ibunya, Marie de Couriss, adalah keturunan Prancis dan Yunani-Rusia, dan bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan produksi film. Attal dibesarkan dalam agama Kristen Ortodoks, yang merupakan agama ibunya.

banner 325x300

Attal menempuh pendidikan dasar dan menengah di École Alsacienne, sebuah sekolah swasta elit di Paris yang mengajarkan bahasa Inggris sejak tingkat dasar. Ia kemudian melanjutkan studinya di Sciences Po, sebuah universitas bergengsi yang mengkhususkan diri dalam bidang ilmu sosial dan politik. Ia mendapatkan gelar master dalam bidang urusan publik. Selain itu, ia juga menyelesaikan studinya di Universitas Paris 2 Panthéon-Assas, yang terkenal dengan program hukumnya.

Karier Politik

Attal mulai tertarik dengan politik ketika ia mengikuti demonstrasi melawan Jean-Marie Le Pen, pemimpin sayap kanan, yang berhasil masuk ke putaran kedua pemilihan presiden tahun 2002. Ia kemudian bergabung dengan Partai Sosialis pada tahun 2006 dan mendukung kandidat presiden dari partai tersebut, Ségolène Royal, pada tahun 2007.

Pada tahun 2012, ia mendapatkan kesempatan untuk magang di kantor Menteri Kesehatan Marisol Touraine, yang merupakan ibu dari salah satu teman sekelasnya. Magang tersebut berlanjut menjadi pekerjaan tetap di kementerian tersebut hingga tahun 2017. Ia juga menjadi anggota dewan kota Vanves sejak tahun 2014.

Pada tahun 2016, ia meninggalkan Partai Sosialis dan bergabung dengan gerakan En Marche! yang dipimpin oleh Emmanuel Macron, yang kemudian menjadi partai La République En Marche! (LREM). Ia menjadi juru bicara partai tersebut pada tahun 2018, menggantikan Benjamin Griveaux.

Pada tahun 2017, ia terpilih menjadi anggota Majelis Nasional Prancis, mewakili daerah pemilihan ke-10 Hauts-de-Seine. Ia mengalahkan André Santini, politikus senior dari partai UDI, dengan perolehan suara 66,21%. Ia menjadi anggota parlemen termuda dari partai LREM.

Pada tahun 2018, ia diangkat menjadi menteri junior di bawah Menteri Pendidikan Nasional dan Pemuda, Jean-Michel Blanquer. Ia bertanggung jawab atas bidang pemuda dan kehidupan asosiasi. Ia juga menjadi anggota Komisi Nasional Konsultasi Hak Asasi Manusia.

Pada tahun 2020, ia ditunjuk sebagai juru bicara pemerintah oleh PM Jean Castex. Ia menjadi salah satu menteri kabinet yang paling sering tampil di media untuk menjelaskan kebijakan pemerintah, terutama terkait dengan pandemi COVID-19.

Pada tahun 2022, ia dipromosikan menjadi Menteri Tindakan Publik dan Akun, menggantikan Olivier Dussopt. Ia bertugas mengawasi anggaran negara, reformasi administrasi, dan pelayanan publik.

Pada tahun 2023, ia kembali menduduki posisi Menteri Pendidikan Nasional dan Pemuda, menggantikan Pap Ndiaye. Langkah pertamanya sebagai menteri pendidikan adalah melarang penggunaan pakaian abaya Muslim di sekolah-sekolah negeri, yang menimbulkan kontroversi di kalangan sebagian masyarakat.

Pada tahun 2024, ia ditunjuk oleh Presiden Macron sebagai PM Prancis baru, menggantikan Élisabeth Borne. Ia menjadi PM termuda dan pertama yang secara terbuka pernah menyatakan dirinya gay. Ia juga menjadi PM Prancis pertama yang beragama Kristen Ortodoks dan keturunan Yahudi.

Prestasi dan Kontroversi

Attal dikenal sebagai politikus yang cerdas, komunikatif, dan berani. Ia memiliki kemampuan untuk berbicara dengan lancar dan meyakinkan di depan publik, baik di parlemen maupun di media. Ia juga memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Macron, yang sering memberinya kepercayaan dan tanggung jawab besar.

Attal juga menjadi simbol dari generasi muda Prancis yang beragam dan inklusif. Ia tidak segan untuk mengungkapkan orientasi seksualnya sebagai gay, dan menjalin hubungan dengan Stéphane Séjourné, mantan penasihat politik Macron, sejak tahun 2015. Ia juga menghormati agama dan budaya ibunya, yang berasal dari Yunani-Rusia.

Namun, Attal juga menuai kritik dan kontroversi dari berbagai pihak. Beberapa orang menilai ia terlalu ambisius dan tidak berpengalaman untuk menjadi PM. Beberapa orang juga mengecam keputusannya untuk melarang abaya di sekolah-sekolah negeri, yang dianggap sebagai bentuk diskriminasi terhadap minoritas Muslim. Beberapa orang juga meragukan kemampuannya untuk mengatasi krisis ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19.

Kesimpulan

Gabriel Attal adalah sosok yang menarik dan inspiratif bagi banyak orang, terutama generasi muda Prancis. Ia berhasil meraih posisi PM Prancis dengan usia yang sangat muda, berkat bakat, kerja keras, dan kepercayaan dari Presiden Macron. Ia juga menjadi representasi dari keberagaman dan inklusivitas di Prancis, sebagai PM pertama yang gay, Kristen Ortodoks, dan keturunan Yahudi. Namun, ia juga menghadapi tantangan dan kritik yang besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia harus membuktikan bahwa ia mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala pemerintahan dengan baik, dan membawa Prancis ke arah yang lebih baik.

banner 325x300
banner 728x90