banner 728x90

Ayah pembunuh empat anak di Jagakarsa

Ayah pembunuh empat anak di Jagakarsa
Ayah pembunuh empat anak di Jagakarsa
banner 468x60

Ayah Pembunuh 4 Anak di Jagakarsa: Apa Motifnya dan Bagaimana Nasibnya?

Ayah pembunuh empat anak di Jagakarsa, Kasus pembunuhan yang menimpa empat anak di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/12/2023) lalu, masih menyisakan banyak tanda tanya. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Bagaimana nasibnya? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan berdasarkan fakta dan data yang ada.

banner 325x300

Ayah pembunuh empat anak di Jagakarsa: Siapa Pelakunya?

Pelaku pembunuhan empat anak di Jagakarsa adalah P (40), ayah kandung dari keempat korban. P ditangkap polisi pada Kamis (7/12/2023) di daerah Cikarang, Bekasi, setelah sempat buron selama sehari. P mengaku menikam keempat anaknya hingga tewas dengan menggunakan pisau dapur.

Keempat anak yang menjadi korban adalah D (15), A (13), R (11), dan N (9). Mereka ditemukan meninggal di kontrakan tempat mereka tinggal bersama ibu mereka, D (35), yang juga merupakan istri siri dari P. D sendiri selamat dari pembunuhan karena sedang bekerja sebagai penjaga toko di dekat kontrakan.

Apa Motifnya?

P mengaku membunuh keempat anaknya karena sakit hati dengan istrinya, D, yang sering berselingkuh dengan pria lain. P juga mengaku tidak tahan melihat anak-anaknya yang sering menderita akibat kelakuan D yang tidak bertanggung jawab. P mengatakan bahwa dia ingin membawa anak-anaknya ke surga agar tidak lagi menderita di dunia.

Namun, motif P ini masih diragukan oleh polisi. Polisi menduga ada motif lain di balik pembunuhan ini, seperti masalah ekonomi atau psikologis. Polisi juga menemukan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa P bukanlah ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Salah satu fakta yang menarik perhatian polisi adalah status pernikahan P dan D yang tidak resmi. P dan D menikah siri pada tahun 2007, tanpa memiliki kartu keluarga (KK) dan tidak mendaftarkan pernikahannya ke instansi resmi. Hal ini membuat anak-anak mereka tidak memiliki akta kelahiran dan tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan yang layak.

Fakta lain yang menguatkan dugaan polisi adalah laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang pernah dilakukan P terhadap D. P dilaporkan oleh kakak iparnya karena diduga menganiaya D pada Sabtu (2/12/2023), empat hari sebelum pembunuhan terjadi. D mengalami luka-luka di bagian wajah, leher, dan tangan akibat dipukul dan dicekik oleh P.

Bagaimana Nasibnya?

P saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif oleh polisi. P dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 80 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup. P juga akan menjalani tes psikologis untuk mengetahui kondisi mentalnya.

Sementara itu, D yang selamat dari pembunuhan masih dalam kondisi trauma dan depresi. D mendapatkan bantuan psikologis dan hukum dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. D juga mendapatkan bantuan dana dari pemerintah dan masyarakat untuk mengurus pemakaman anak-anaknya.

Kasus pembunuhan empat anak di Jagakarsa ini menjadi perhatian publik dan media. Banyak orang yang mengutuk perbuatan P dan menyampaikan belasungkawa kepada D. Banyak juga yang menyoroti masalah pernikahan siri, KDRT, dan perlindungan anak yang menjadi latar belakang kasus ini. Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli dan waspada terhadap lingkungan sekitar kita.

banner 325x300
banner 728x90